Featured Article
Tampilkan postingan dengan label Info Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Peternakan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Mei 2014

Budidaya Ternak Kambing

KELUARAN
Ternak kambing produksi optimal

BAHAN
Kambing, pakan, peralatan konstruksi kandang, lahan

ALAT
Tempat pakan/minum

PEDOMAN TEKNIS

Jenis kambing asli di Indonesia adalah kambing kacang dan kambing peranakan etawa (PE)

Memilih bibit
Pemilihan bibit diperlukan untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik. Pemilihan calon bibit dianjurkan di daerah setempat, bebas dari penyakit dengan phenotype baik.

Calon induk
Umur berkisar antara > 12 bulan, (2 buah gigi seri tetap), tingkat kesuburan reproduksi sedang, sifat keindukan baik, tubuh tidak cacat, berasal dari keturunan kembar (kembar dua), jumlah puting dua buah dan berat badan > 20 kg.

Calon pejantan
Pejantan mempunyai penampilan bagus dan besar, umur > 1,5 tahun, (gigi seri tetap), keturunan kembar, mempunyai nafsu kawin besar, sehat dan tidak cacat.

Pakan

Ternak kambing menyukai macam-macam daun-daunan sebagai pakan dasar dan pakan tambahan (konsentrat).

Pakan tambahan dapat disusun dari (bungkil kalapa, bungkil kedelai), dedak, tepung ikan ditambah mineral dan vitamin.

Pakan dasar umumnya adalah rumput kayangan, daun lamtoro, gamal, daun nangka, dsb.

Pemberian hijauan sebaiknya mencapai 3 % berat badan (dasar bahan kering) atau 10 - 15 % berat badan (dasar bahan segar)

Pemberian pakan induk
Selain campuran hijauan, pakan tambahan perlu diberikan saat bunting tua dan baru melahirkan, sekitar 1 1/2 % berat badan dengan kandungan protein 16 %.

Kandang
Pada prinsipnya bentuk, bahan dan konstruksi kandang kambing berukuran 1 1/2 m² untuk induk secara individu. Pejantan dipisahkan dengan ukuran kandang 2 m², sedang anak lepas sapih disatukan (umur 3 bulan) dengan ukuran 1 m/ekor. tinggi penyekat 1 1/2 - 2 X tinggi ternak.

Pencegahan penyakit : sebelum ternak dikandangkan, kambing harus dibebaskan dari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengan dimandikan.


--------------------------------------------------------------------------------

TERNAK KAMBING

PENDAHULUAN
Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baik daging, susu, kotoran maupun kulitnya) relatif mudah. Meskipun secara tradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50 - 150 gram per hari. Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam usaha ternak kambing, yaitu: bibit, makanan, dan tata laksana.

BIBIT
Pemilihan bibit harus disesuaikan dengan tujuan dari usaha, apakah untuk pedaging, atau perah (misalnya: kambing kacang untuk produksi daging, kambing etawah untuk produksi susu, dll). Secara umum ciri bibit yang baik adalah yang berbadan sehat, tidak cacat, bulu bersih dan mengkilat, daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan.

Ciri untuk calon induk:

Tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, tubuh besar, tapi tidak terlalu gemuk.

Jinak dan sorot matanya ramah.

Kaki lurus dan tumit tinggi.

Gigi lengkap, mampu merumput dengan baik (efisien), rahang atas dan bawah rata.

Dari keturunan kembar atau dilahirkan tunggal tapi dari induk yang muda.

Ambing simetris, tidak menggantung dan berputing 2 buah.

Ciri untuk calon pejantan :

Tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang lebih besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif dan memiliki libido (nafsu kawin) tinggi.

Kaki lurus dan kuat.

Dari keturunan kembar.

Umur antara 1,5 sampai 3 tahun.

MAKANAN
Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi ternak. Pakan yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, mudah dicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah diperoleh. Pada dasarnya ada dua macam makanan, yaitu hijauan (berbagai jenis rumput) dan makan tambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung ikan, bungkil kelapa, vitamin dan mineral).
Cara pemberiannya :

Diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore), berat rumput 10% dari berat badan kambing, berikan juga air minum 1,5 - 2,5 liter per ekor per hari, dan garam berjodium secukupnya.

Untuk kambing bunting, induk menyusui, kambing perah dan pejantan yang sering dikawinkan perlu ditambahkan makanan penguat dalam bentuk bubur sebanyak 0,5 - 1 kg/ekor/hari.

TATA LAKSANA

Kandang

Harus segar (ventilasi baik, cukup cahaya matahari, bersih, dan minimal berjarak 5 meter dari rumah).
Ukuran kandang yang biasa digunakan adalah :
Kandang beranak : 120 cm x 120 cm /ekor
Kandang induk : 100 cm x 125 cm /ekor
Kandang anak : 100 cm x 125 cm /ekor
Kandang pejantan : 110 cm x 125 cm /ekor
Kandang dara/dewasa : 100 cm x 125 cm /ekor


Pengelolaan reproduksi
Diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :

Kambing mencapai dewasa kelamin pada umur 6 s/d 10 bulan, dan sebaiknya dikawinkan pada umur 10-12 bulan atau saat bobot badan
mencapai 55 - 60 kg.

Lama birahi 24 - 45 jam, siklus birahi berselang selama 17 - 21 hari.

Tanda-tanda birahi : gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan mau/diam bila
dinaiki.

Ratio jantan dan betina = 1 : 10
Saat yang tepat untuk mengawinkan kambing adalah :

Masa bunting 144 - 156 hari (.... 5 bulan).

Masa melahirkan, penyapihan dan istirahat ± 2 bulan.

Pengendalian Penyakit

Hendaknya ditekankan pada pencegahan penyakit melalui sanitasi kandang yang baik, makanan yang cukup gizi dan vaksinasi.

Penyakit yang sering menyerang kambing adalah: cacingan, kudis (scabies), kembung perut (bloat), paru-paru (pneumonia), orf, dan koksidiosis.

Pasca Panen

Hendaknya diusahakan untuk selalu meningkatkan nilai tambah dari produksi ternak, baik daging, susu, kulit, tanduk, maupun kotorannya. Bila kambing hendak dijual pada saat berat badan tidak bertambah lagi (umur sekitar 1 - 1,5 tahun), dan diusahakan agar permintaan akan kambing cukup tinggi.

Harga diperkirakan berdasarkan : berat hidup x (45 sampai 50%) karkas x harga daging eceran.

CONTOH ANALISA USAHA TERNAK KAMBING

Pengeluaran

Bibit

Bibit 1 ekor pejantan = 1 x Rp. 250.000,- Rp. 250.000,-
Bibit 6 ekor betina = 1 x Rp. 200.000,- Rp. 1.200.000,-
Total Rp. 1.450.000,-
Kandang Rp. 500.000,-
Makanan Rp. 200.000,-
Obat-obatan Rp. 100.000,-
Total Pengeluaran Rp. 2.250.000,-
Pemasukan

Dari anaknya
Jika setelah 1 tahun, ke 6 produk menghasilkan 2 ekor, jumlah kambing yang bisa dijual setelah 1 tahun = 12 ekor. Jika harga tiap ekor Rp. 150.000,- maka dari 12 ekor tersebut akan dihasilkan : 12 x Rp. 150.000,- = Rp. 1.800.000,-
Dari induk
Pertambahan berat induk 50 gram per ekor per hari, maka setelah 2 tahun akan dihasilkan pertambahan berat : 7 x 50 gr x 365 = 127,75 kg. Total daging yang dapat dijual (7 x 15 kg) + 127,75 kg = 232,75 kg. Pendapatan dari penjualan daging = 232,75 kg x Rp. 10.000,-=Rp.2.327.500,-
Dari kotoran :
Selama 2 tahun bisa menghasilkan ± 70 karung x Rp. 1.000,- = Rp. 70.000,-
Keuntungan

Masuk:Rp.1.800.000+Rp. 2.327.500+Rp. 70.000 == Rp. 4.197.500,-
Keluar:Rp.1.450.000+Rp.500.000+Rp.200.000+Rp.100.000 == Rp. 2.250.000
Keuntungan selama 2 th: Rp. 4.197.500,- dikurang Rp. 2.250.000 == Rp. 1.947.500,- atau Rp. 81.145,- per bulan.

Sabtu, 26 April 2014

Sapi Perah yang Menguntungkan



Bermodal awal dua ekor sapi perah, Sayfudin Zuhri berhasil menjadi peternak sukses di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kuncinya, jangan cepat puas diri.

Sayfudin adalah contoh peternak sapi perah yang berhasil mengembangkan usaha. Setelah 13 tahun berkutat di usaha ini, kini pria yang biasa dipanggil Sutrikno ini bisa berbangga lantaran usaha yang dilakoninya dengan tekun ini berhasil. Dari modal dua ekor, kini jumlah ternaknya telah mencapai 50-an ekor. Berkat usaha ternak sapi perahnya tersebut, Sayfudin pun sukses mengangkat derajat perekonomian keluarga.

Ayah tiga anak ini bisa membeli rumah, kebun, mobil, bahkan mampu menunaikan rukun Islam yang kelima, berhaji. ”Alhamdulillah kehidupan kami sekarang lebih dari cukup,” kata pria yang hanya lulusan SMP tersebut. 

Meski telah menuai sukses, Sayfudin mengaku belum sepenuhnya puas. Cita-citanya adalah terus menambah jumlah sapinya agar usahanya semakin maju.

Sayfudin berpendapat, usaha ternak sapi perah bakal semakin prospektif lantaran kebutuhan susu murni nasional terus meningkat. ”Kesadaran masyarakat kita meminum susu semakin hari semakin baik. Itu berdampak bagus bagi peternak seperti kami,” tuturnya. 

Kendala menjadi peternak sapi perah memang masih ada. Situasi sulit yang dihadapi peternak sapi perah seperti Sayfudin adalah ketika harga jual susu di tingkat koperasi jatuh.

Sialnya, tak banyak pilihan bagi para peternak untuk keluar dari situasi ini. ”Lebih repot lagi jika sapi bunting. Produksi susu pasti turun,” aku Sayfudin. 

Situasi seperti itu, menurut Sayfudin, membutuhkan kreativitas peternak. Daripada berkutat dengan masalah pelik harga jual susu, Sayfudin memilih mencari pemasukan dari sumber lain atau paling tidak bisa mengurangi biaya perawatan.

Berbekal informasi yang dia dapat, belakangan Sayfudin memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku energi biogas. Dengan pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas, Sayfudin mengaku bisa menghemat hingga Rp10.000 per hari untuk biaya penerangan rumah dan kandang sapi. Limbah bahan baku biogas ini oleh Sayfudin kemudian diolah lagi menjadi pupuk.

Tak hanya itu, kebun seluas empat hektare yang sekaligus menjadi kandang ternaknya juga dimanfaatkan untuk ditanami kopi robusta. Tak heran bila pria kreatif ini menjadi panutan bagi peternak sapi perah di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. “Kita harus kreatif dengan segala masalah yang ada. Kalau tidak, ya gak akan maju-maju. Petani atau peternak seperti kebanyakan gak akan bisa menikmati jerih payahnya,” pesan Sayfudin.

Perjalanan Sayfudin hingga menjadi sekarang cukup panjang. Pada 1987, ketika menginjak usia 22 tahun, dia mulai mengikuti jejak orangtuanya yang juga peternak sapi perah. Keinginan Sayfudin mengikuti jejak orang tua dilatarbelakangi minatnya dengan dunia peternakan. Sayfudin benar-benar total menimba ilmu dari orangtuanya. Semua hal yang berkaitan dengan dunia ternak sapi perah dia pelajari.

Mulai dari pakan, kebersihan kandang, cara memerah susu, dan perawatan sapi agar menghasilkan produk susu berkualitas. Ibarat murid sekolah,Sayfudin juga memegang prinsip bahwa setiap tahun dia harus naik kelas. Dia berprinsip tak ingin sekadar menjadi peternak sapi perah seperti yang dilakukan orangtuanya atau peternak lainnya di Desa Kalipucung, Pasuruan, tapi juga harus memiliki nilai lebih.

Berkat keuletannya, tak heran Sayfudin mampu menyerap ilmu dari orang tuanya dengan cepat. Pada tahun ketujuh sejak dia masih menjadi “murid” orangtua, Sayfudin telah memiliki tujuh ekor sapi perah dari modal awal yang hanya dua ekor. Keinginan Sayfudin untuk terus maju tak pernah padam.Meski telah memelihara tujuh sapi perah, dia ingin menambah ternaknya lagi.

”Padahal, dengan dua ekor sapi perah saja sudah cukup untuk mendukung perekonomian keluarga,” katanya. 

Keinginan itu akhirnya bisa terwujud ketika BNI Syariah menawarkan pinjaman Rp20 juta. Modal ini dipakai untuk membeli beberapa ekor sapi lagi sehingga jumlahnya menjadi 12 ekor. Cukup? Ternyata belum. Ketika ada kesempatan pengajuan kredit lagi, Sayfudin kembali mengajukan pinjaman sebesar Rp60 juta. Sapi Sayfudin pun bertambah menjadi sekitar 25 ekor.

Dari 25 ekor,usaha sapi perah milik Sayfudin terus berkembang. Kini ternak sapi perahnya mencapai 50-an ekor. Namun, tak semua sapi perahnya dia pelihara sendiri di lahan ternaknya yang seluas empat hektare. Lantaran lahan itu terlalu sempit, Sayfudin hanya mampu memelihara 12 ekor sapi. Selebihnya, sapi-sapi dia titipkan kepada orang lain dengan sistem bagi hasil. Setiap sapi rata-rata dapat menghasilkan 10 liter susu segar per hari.

Dengan harga susu segar Rp3.000 per liter, Sayfudin mampu meraup penghasilan Rp360.000 per hari atau sekitar Rp10,8 juta per bulan, hanya dari 12 ekor sapi yang dia pelihara sendiri. ”Dari usaha tersebut sudah cukup memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar pria rendah hati ini.

Sayfudin juga mengaku senang bisa menitipkan sebagian sapi-sapinya melalui pola kemitraan dengan orang lain. Peternak yang bermitra dengan Sayfudin pun merasa senang karena selain mendapat penghasilan, juga bisa menimba ilmu dari sosok yang dikenal supel ini. (Sindo/Sugeng Wahyudi).

Blog Arsip

Jumlah Kunjungan