Featured Article
Tampilkan postingan dengan label Info Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Wisata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Januari 2019

Ternyata Kata "Pariwisata" Dicetuskan Pertamakali di Tretes Lho...

Anak Belanda naik kuda di Tretes tahun 1930
Adalah Letnan Jendral Djatikusumo yang kala itu menjabat Menteri PDPTP (Perhubungan, Pos, Telekomunikasi & Pariwisata) yang memperkenalkan pertama kalinya kata "Pariwisata" sebagai pengganti kata "Tourisme" dalam kesempatan Musyawarah Nasional Tourisme II di Tretes, Jawa Timur, pada tanggal 12-14 Juni 1958. Sebelumnya dalam sebuah musyawarah yang diadakan di gedung pemuda Surabaya, Presiden Soekarno dalam amanatnya yang disampaikan kepada peserta musyawarah menanyakan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayan Prijono, perkataan Indonesia apakah yang paling tepat untuk menggantikan kata Tourisme. Dalam jawabannya kepada Presiden Ir. Soekarno Prijono memberi penjelasan, bahwa sebagai pengganti kata Tourisme dapat digunakan kata dharmawisata untuk perjalanan antar kota (dalam negeri), sedangkan untuk perjalanan antar benua (luar negeri) tepat digunakan kata pariwisata. Pada waktu itulah diresmikan pengganti kata tourisme menjadi kata pariwisata oleh Presiden Ir. Soekarno dan atas dasar itu pula pada tahun 1960 dibentuk Dewan Pariwisata Indonesia (Depari).

Kata Pariwisata sendiri berasal dari bahasa Sansakerta yaitu "Pari" yang artinya: banyak, berkali-kali, berputar-putar, lengkap.  Dan "Wisata" yang bermakna: pergi (to go, kata kerja), bepergian (to travel, kata kerja); dapat juga berarti ‘perjalanan’ (travel, kata benda), sehingga Pariwisata sendiri bisa dimaknai sebagai beberapa perjalanan yang dilakukan secara bersambung/ berantai dari satu tempat ke tempat berikutnya dan diakhiri di tempat keberangkatan (=tour, perjalanan keliling). Sedangkan Pariwisata menurut UU No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan adalah segala seuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusahaan, daya tarik dan atraksi wisata serta usaha-usaha yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. Pengertian tersebut meliputi: semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata, sebelum dan selama dalam perjalanan dan kembali ke tempat asal, pengusahaan daya tarik atau atraksi wisata (pemandangan alam, taman rekreasi, peninggalan sejarah, pagelaran seni budaya). Usaha dan sarana wisata berupa: usaha jasa, biro perjalanan, pramu wisata, usaha sarana, akomodasi dan usaha-usaha lain yang berkaitan dengan pariwisata.
Air terjun Kakek Bodo jaman Belanda
Sejak jaman Belanda tretes memang sudah terkenal sebagai tempat tujuan wisata utama. Pada masa kolonial di Tretes sudah dibangun hotel dan kolam renang diantaranya Bad Hotel (sekarang jadi Inna Hotel), Van Vloten (Tretes Raya Hotel), dan Nimfend Bath (sekarang Pines Garden Hotel). Selain itu Belanda juga banyak membangun villa sebagai tempat peristirahatan untuk para perwira Kompeni yang lebih dikenal dengan nama Loji. Untuk memperlancar arus barang dan manusia, Belanda juga membangun infrastruktur berupa jalan raya antara Tretes-Pandaan mulai 1910. Tahun 1921 jalan raya Tretes-Pandaan sudah beraspal. Sebelum tahun 1921, jalan aspal hanya sampai di pertigaan Prigen (Petigaan Seno/ Lim Seeng The) yang dulu dikenal sebagai Tembungan. Lim  Seen The (Pendiri Pabrik Rokok Sampoerna) membangun villa-nya yang terletak di pertigaan Prigen antara 1883-1923. Sebagai dataran tinggi yang memiliki pemandangan eksotis, menjadikan kawasan Tretes tahun 1900-an merupakan wilayah favorit  keluarga Belanda untuk berwisata. (diolah dari berbagai sumber)

Rabu, 02 Januari 2019

Amphitheater Alam, Andalan Baru Wana Wisata Kakek Bodo

Amphitheater Alam Wana Wisata Kakek Bodo Tretes
Nama Kakek Bodo tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tempat wisata alam yang identik dengan air terjun dan pemandangan hutannya ini selalu jadi jujukan utama wisatawan yang melancong ke Tretes. Tapi tahukah Anda bahwa sekarang ada panggung terbuka atau biasa dikenal dengan amphitheater di sana? 

Dalam setahun terakhir, tim pengelola objek wisata alam Kakek Bodo memang sudah banyak berbenah. Dari sebuah tempat wisata yang awalnya terkesan biasa-biasa saja saat ini menjelma menjadi sebuah tempat instagramable yang wajib dikunjungi bersama keluarga, sahabat atau bahkan rekan kerja. Asri dan sejuknya hawa segar pegunungan makin memanjakan raga sehingga sangat cocok untuk melepas rasa penat setelah seharian beraktivitas.

Lorong jalan yang dibuat dari ranting pohon menjadi ikon baru Kakek bodo
Banyak wahana baru yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk selfie. Ada menara pohon, lorong gua yang terbuat dari ranting, taman bunga dan yang paling terbaru adalah spot selfie 3 dimensi. Selain itu ada juga fasilitas kolam renang dan mandi bola yang dapat dimanfaatkan pengunjung secara gratis, tanpa harus membeli tiket tambahan. Menurut Junior Duty Manager Wisata Kakek Bodo, Edi Prasetyo Utomo, beragam wahana baru tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung.

Kolam renang didalam lokasi Kakek bodo
"Terus terang kita banyak mengadopsi konsep Wana Wisata milik Perhutani yang ada di Jawa Barat. Tetapi tentu saja kita sesuaikan dengan kondisi yang ada di Kakek bodo. Kita ingin kedepan tingkat kunjungan bisa semakin meningkat. Pelan-pelan terus kita sempurnakan dengan menggandeng investor dan memberdayakan masyarakat sekitar," ujarnya. Pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk Rp. 20.000,- per orang dan bebas memanfaatkan segala fasilitas yang tersedia.
Wahana amphitheater akan dimanfaatkan untuk kegiatan seni dan budaya untuk menghibur pengunjung. Selain itu pengunjung juga bisa menyewanya untuk acara-acara tertentu seperti wisuda atau private party. Selama ini pihak pengelola Kakek Bodo telah beberapa kali menyelenggarakan acara musik disana dan mendapat sambutan hangat dari pengunjung.

Pantauan Kelompok Informasi masyarakat (KIM) Tretes Taman Wisata, Kecamatan Prigen, ada sebuah keinginan besar yang disampaikan pihak pengelola untuk menjadikan Kakek Bodo agar lebih terkenal. Ke depannya, panggung terbuka amphitheater akan dimanfaatkan untuk menggelar event musik berskala nasional, seperti Jazz Gunung atau acara konser musik berkelas lainnya. Sehingga bisa menjadi ikon sekaligus mengangkat kembali pariwisata Tretes agar makin diminati khalayak. Tidak hanya masyarakat Jawa Timur saja, melainkan juga pengunjung diluar Jawa Timur. (KIM TTW) 

Minggu, 30 Desember 2018

Yuk..Tahun Baruan Bareng Keluarga di Tretes


Liburan akhir tahun adalah saat yang tepat untuk berkumpul dan berlibur bersama keluarga, tapi terkadang kita masih bingung harus kemana. Banyak hal yang menjadi faktor pertimbangan sebelum memutuskan tujuan yang akan diambil untuk berwisata. Salah satunya adalah jarak tempuh dan kemacetan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di tempat-tempat tujuan wisata utama seperti Batu Malang di musim-musim liburan pasti penuh dan macet. Terkadang sampai berjam-jam dengan antrian yang sangat panjang. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan mempengaruhi mood kita yang ingin berlibur. Belum lagi ketersediaan tempat akomodasi yang belum tentu kita dapatkan jika belum melakukan reservasi. Sudah capek kena macet berjam-jam, eh..kehabisan tempat untuk menginap. Nasib..nasib..hehehe

Tempat wisata alternatif yang tidak terlalu jauh, bebas macet dan murah meriah adalah solusinya. Disamping itu harus ditunjang dengan fasilitas akomodasi yang layak serta tempat kuliner yang enak. Itu semua bisa kita dapatkan di Tretes Kecamatan Prigen. Ya..Tretes memang terkenal sebagai salah satu tempat terfavorit untuk menghabiskan liburan akhir tahun bersama keluarga. Selain hawa yang sejuk khas pegunungan Tretes juga menawarkan aneka kuliner yang akan memanjakan lidah kita. Mulai dari jagung bakar, wedhang ronde, bakso hingga sate kelinci selalu siap tersaji. Jika beruntung kita akan bertemu dengan penyanyi jalanan yang akan menghibur kita dengan alat musiknya.


Satu hal yang menarik dan selalu ditunggu-tunggu oleh pengunjung yang berkunjung di Tretes adalah pesta kembang api di malam tahun baru. Dari beberapa hotel dan villa yang ada dikawasan Tretes pada setiap malam pergantian tahun dipastikan akan mengadakan pesta kembang api. Sehingga langit Tretes akan tampak indah dan meriah dihiasi kembang api yang berwarna-warni. Tradisi ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun sehingga pengunjung selalu menantikan momen tersebut dan menikmatinya bersama keluarga tercinta. Sebelumnya kita bisa menyewa sebuah villa yang bisa kita manfaatkan untuk beristirahat dan melakukan beberapa aktivitas yang menyenangkan. Berenang, main musik atau pesta bakar jagung adalah beberapa hal yang bisa dilakukan pengunjung dalam melewatkan malam pergantian tahun sembari menikmati pesta kembang api. Tak heran jika banyak pengunjung dari luar kota seperti Surabaya dan Sidoarjo memilih Tretes sebagai tujuan liburan akhir tahunnya.

Senin, 28 Agustus 2017

Parade Barong Di Tretes Fashion Carnival



Ada yang baru dalam gelaran kegiatan Tretes Fashion Carnival tahun ini. Acara yang digelar pada Minggu (27/08) mengusung konsep perpaduan antara modern dan tradisional. Dan untuk penyelenggaraan tahun ini disemarakkan dengan Parade Barong.  Kurang lebih 40-an pemain barong dari berbagai tempat di wilayah Tretes ikut menyemarakkan kegiatan parade barong tahun ini. Acara Tretes Fashion Carnival sendiri adalah sebuah acara yang rutin digelar setiap tahun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan bekerjasama dengan Badan Promosi Pariwisata (BPPD) dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan menjadi satu rangkaian dengan acara Tretes Night Run (TNR).




Selain Parade Barong, kegiatan Tretes Fashion Carnival sendiri diikuti oleh kurang lebih 50-an peserta dari berbagai perkumpulan dan sekolah. Aneka kreasi pakaian dan berbagai gaya ditampilkan oleh masing-masing peserta untuk menarik hati penonton dan dewan juri.


 

Minggu, 27 Agustus 2017

Pelari Kenya Jawara Tretes Night Run 2017


Ajang tahunan yang bertujuan untuk memperkenalkan pesona keindahan kawasan wisata Tretes melalui kegiatan olahraga lari di malam hari, Tretes 10K Night Run kembali digelar tahun ini. Acara yang digagas oleh Badan Promosi Pariwisata (BPPD) bersama Pemkab. Pasuruan ini diselenggarakan pada hari Sabtu (26/08). Dengan mengambil Start di pertigaan Limas Taman Wisata Tretes, sekitar 500-an pelari dari berbagai daerah dan luar negeri diberangkatkan oleh Camat Prigen Bpk. Mujiono tepat pada pukul 17.00 WIB. 



Rute yang dilewati peserta agak berbeda tahun ini, lebih menantang dengan sudut kemiringan yang lebih tajam. Banyak diantara peserta yang mengalami kesulitan menyelesaikan tantangan sehingga terpaksa harus diangkut ambulance. Tetapi banyak juga peserta yang merasa dengan perubahan rute ini menjadi lebih menarik. Akhirnya setelah kurang lebih 30 menit satu persatu peserta mulai mendekati garis finish. Di menit 36 pelari dari negara Kenya Afrika, Samson Karega memasuki garis Finish di urutan pertama. Berturut-turut diikuti oleh Robi Dwi Kurniawan asal Probolinggo dan Noce Matital asal Ambon.



Setelah seluruh peserta memasuki garis finish, pada pukul 19.30 WIB dilanjutkan dengan pembagian doorprize dan hadiah utama kepada para pemenang yang diserahkan langsung oleh Bupati Pasuruan Bpk. H. Irsayad Yusuf. Dalam sambutannya beliau berharap agar dengan penyelenggaraan kegiatan Tretes Night Run ini bisa mendongkrak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Tretes dan bisa mengubah image Tretes menjadi kawasan wisata keluarga.


Kamis, 20 Juli 2017

Eh, Di Tretes Ada Monkey Forest Lho..



Pernah berkunjung ke monkey forest yang ada di Ubud Bali? Melihat monyet-monyet liar dari dekat di habitat aslinya merupakan sebuah pengalaman yang menarik. Tak kalah dengan Ubud di Tretes pun masih banyak dihuni oleh kawanan monyet liar terutama monyet ekor panjang berbulu abu-abu (Macaca fascicularis). Monyet-monyet ini biasanya muncul didekat pemukiman penduduk di pagi dan sore hari. Mereka datang bergerombol bergantungan dipohon dan tak jarang mereka naik ke atap rumah warga yang rumahnya dekat hutan. Saat ini habitat mereka semakin terdesak dengan bertambahnya permukiman warga. Akibatnya sumber makanan merekapun semakin berkurang. Tak jarang mereka harus mencari makan diantara tumpukan sampah buangan warga.

Jika dikelola dengan baik, kawanan monyet ini sebenarnya berpotensi menjadi salah satu daya tarik wisata kawasan Tretes. Sayangnya hal ini belum dilakukan oleh pemerintah daerah. Sehingga alih-alih menjadi daya tarik wisata, justeru keberadaan monyet-monyet liar ini malah dianggap pengganggu oleh warga. Butuh solusi yang tepat agar keberadaan kawanan monyet ini bisa bermanfaat dan habitat mereka pun selamat.


Blog Arsip

Jumlah Kunjungan