Featured Article
Tampilkan postingan dengan label info Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Agustus 2017

Parade Barong Di Tretes Fashion Carnival



Ada yang baru dalam gelaran kegiatan Tretes Fashion Carnival tahun ini. Acara yang digelar pada Minggu (27/08) mengusung konsep perpaduan antara modern dan tradisional. Dan untuk penyelenggaraan tahun ini disemarakkan dengan Parade Barong.  Kurang lebih 40-an pemain barong dari berbagai tempat di wilayah Tretes ikut menyemarakkan kegiatan parade barong tahun ini. Acara Tretes Fashion Carnival sendiri adalah sebuah acara yang rutin digelar setiap tahun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan bekerjasama dengan Badan Promosi Pariwisata (BPPD) dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan menjadi satu rangkaian dengan acara Tretes Night Run (TNR).




Selain Parade Barong, kegiatan Tretes Fashion Carnival sendiri diikuti oleh kurang lebih 50-an peserta dari berbagai perkumpulan dan sekolah. Aneka kreasi pakaian dan berbagai gaya ditampilkan oleh masing-masing peserta untuk menarik hati penonton dan dewan juri.


 

Selasa, 07 Maret 2017

Melestarikan Seni Tradisonal Bantengan



Dung..dung..dung..suara musik kendang dan jidor bertalu-talu mengiringi gerakan penari dengan topeng kepala banteng bertutup kain hitam. Semakin lama semakin keras dan sang penari yang terdiri dari dua orang yang berfungsi sebagai kepala dan ekor banteng bergerak semakin liar menyeruduk ke kanan dan ke kiri. Ya, saat ini sedang berlangsung pertunjukan seni bantengan dari sebuah perkumpulan kesenian bantengan di Dusun Sumberrejo Desa Lumbangrejo.  

Dikutip dari Wikipedia.org Seni Tradisional Bantengan adalah sebuah seni pertunjukan budaya tradisi yang menggabungkan unsur sendra tari, olah kanuragan, musik, dan syair/mantra yang sangat kental dengan nuansa magis. Pelaku Bantengan yakin bahwa permainannya akan semakin menarik apabila telah masuk tahap “trans” yaitu tahapan pemain pemegang kepala Bantengan menjadi kesurupan arwah leluhur Banteng (Dhanyangan. Perkembangan kesenian Bantengan mayoritas berada di masyarakat pedesaan atau wilayah pinggiran kota di daerah lereng pegunungan se-Jawa Timur tepatnya Bromo-Tengger-Semeru, Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi dan Raung-Argopuro.
Permainan  kesenian  bantengan  dimainkan  oleh  dua orang  yang berperan  sebagai  kaki  depan  sekaligus  pemegang  kepala bantengan dan pengontrol tari bantengan serta kaki belakang yang juga berperan sebagai ekor bantengan. Kostum bantengan biasanya terbuat dari kain hitam dan topeng yang berbentuk kepala banteng yang terbuat dari kayu serta tanduk asli banteng.
Bantengan ini selalu diiringi oleh sekelompok orang yang memainkan musik khas bantengan dengan alat musik berupa gong, kendang, dan lain-lain. Kesenian ini dimainkan oleh dua orang laki-laki, satu di bagian depan sebagai kepalanya, dan satu di bagian belakang sebagai ekornya. dan biasanya, lelaki bagian depan akan kesurupan, dan orang yang di belakangnya akan mengikuti setiap gerakannya.
 
Tak jarang orang di bagian belakang juga kesurupan. tetapi, sangat jarang terjadi orang yang di bagian belakang kesurupan sedangkan bagian depannya tidak. bantengan dibantu agar kesurupan oleh orang (laki-laki) yang memakai pakaian serba merah yang biasa disebut abangan dan kaos hitam yang biasanya di sebut irengan.


Senin, 27 Februari 2017

Monteng, Senjata Khas Peninggalan Pak Sakerah



Sekilas jika melihat senjata ini bentuknya mirip Kujang (senjata tradisonal dari Jawa Barat) tetapi bentukya lebih besar dan panjang. Gagangnya seperti Celurit (senjata khas Madura). Jadi bisa dikatakan bentuknya seperti perpaduan keduanya. Gagangnya yang panjang dapat dipakai untuk memegang dengan dua tangan. Nama senjata ini adalah Monteng, senjata yang dipakai oleh Pak Sakerah yang bernama asli Sagiman. Ya, siapa yang tidak kenal pak Sakerah. Tokoh yang sangat legendaris dan sering dimainkan dalam cerita ludruk bahkan pernah diangkat ke layar lebar. Selama ini kita mengenal senjata yang dipakai pak Sakerah adalah celurit, tetapi sebenarnya adalah monteng.
Fungsi asli dari Monteng adalah untuk memotong tebu. Pak Sakerah memang dikenal sebagai mandor tebu di daerah Bangil Pasuruan pada jaman Belanda. Karena tak tahan melihat kesewenang-wenangan Belanda terhadap penduduk pribumi akhirnnya Pak Sakerah melakukan perlawanan. Yang akhirnya Pak Sakerah dicap sebagai pemberontak oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Perlawanan Pak Sakerah menggunakan senjata monteng.
 
Saat ini Monteng dikenalkan kembali kepada seluruh masyarakat dengan harapan bisa dikenal dan diterima sebagai senjata khas Kabupaten Pasuruan. Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kab. Pasuruan (DK3P) Bagong Sinukarto menjelaskan, bahwa Monteng ini berbeda dengan yang ada di Madura. Beliau juga menyatakan bahwa telah melakukan dialog dan diskusi dengan berbagai pihak, mulai budayawan hingga akademisi sehingg beliau berani  memastikan jika Monteng adalah senjata khas Kab. Pasuruan.

Selasa, 10 Januari 2017

Tretes Rootsteady, Yooo Maaann..



Woyyyyooo...teriakan khas penggemar Reggae diteriakan oleh pembawa acara. Berkumpulah para penonton mendekati panggung. Marilah kita sambut..Tretes.. Root..Steadyyy... Alunan musik menghentak dan penonton pun bergoyang menikmati alunan musik Reggae. Tretes Rootsteady (TRS) adalah grub Band reggae asli Tretes yang dikomandoi oleh Chak Chyz selaku manajer. Band ini awalnya adalah kumpulan anak-anak di SMK Negeri Prigen yang kebetulan mempunyai hobi musik bersama. Akhirnya pada tanggal 25 Oktober 2015 terbentuklah Grub Tretes Rootsteady. Mengawali panggung pertama pada kegiatan Gerak Jalan Tradisional Gendewa, perlahan-lahan mulai dikenal oleh masyarakat khususnya para pemuda.
Saat ini bisa dikatakan TRS sudah lumayan terkenal di daerah Tretes dan Pandaan. Job manggung pun mengalir deras. Setiap kali manggung bisa dipastikan penonton akan berjubel. Mereka rela datang jauh-jauh sekedar ingin melihat band kesyangannya tampil.

Rabu, 09 Maret 2016

Keroncong Gunung Kembali Digelar



Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Pasuran (DK3P) bekerjasama dengan KIM Tretes Taman Wisata kembali menggelar Pagelaran Keroncong On The Mountain volume 3 di taman hotel Royal Tretes view. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2016 ini dimeriahkan oleh artis-artis keroncong senior di Kabupaten Pasuruan. Yang menarik adalah penampilan grub Keroncong Rekoda dari Jombang yang seluruh personilnya adalah pelajar SMP dan SMA, karena selama ini musik keroncong identik dengan musiknya para orang tua.
 
Menurut pak Bagong selaku penggagas acara, tujuan utama diselenggarakannya acara ini adalah melestarikan musik  keroncong sebagai warisan budaya bangsa yang menjadi kebanggaan Indonesia dimata dunia. Selain itu dengan diadakannya Keroncong Gunung ini diharapkan menjadi ajang promosi Tretes sebagai kawasan wisata seni dan budaya.

Kamis, 16 April 2015

Babad Alas Tretes



Tahun 1706 benteng terakhir Untung Suropati (Adipati Wiranegara) di Pasuruan jatuh. Untung Suropati gugur. Pasukannya tercerai berai. Beberapa orang mengundurkan diri ke Mojokerto dan Kediri dan meneruskan perlawana terhadap Belanda bergabung dengan Kadipaten lain.

Beberapa anggota laskar  Untung Suropati lainnya menyingkir ke hutan-hutan di wilayah Pasuruan dan Malang, tepatnya di Lereng Gunung Arjuno Welirang untuk menghindari kejaran musuh. Harapannya suatu saat dapat menggalang kekuatan untuk melawan kompeni Belanda. Diantara anggota laskar itu adalahKaliah, Andan Bumi, R. Adziman dan beberapa teman lainnya.

Kaliah yang akhirnya dikenal sebagai mbah Kaliah menetap di tempat paling terpencil. Tinggal di hutan perawan yang lebat. Masih banyak binatang buas serta dikenal angker. Tempat baru ini begitu subur karena banyak sumber airnya. Di sinilah mbah Kaliah memulai kehidupan baru dengan membabat hutan dan  mendirikan pondok sederhana. Karena tempat ini merupakan daerah yang sangat aman maka di saat tertentu, rekan-rekan seperjuang Kaliah berkumpul di tempat ini untuk membicarakan tentang masa depan.

Lantaran tempat baru yang diidami Kaliah banyak sumber air dan rembesan airnya ada yang selalu menetes melalui celah-celah batu tebing, maka tempat ini kemudian dinaman TRETES, yang artinya selalu menetes. Akhirnya dalam waktu yang panjang  wilayah Tretes makin ramai karena banyak pendatang yang datang dan menetap. Maka jadilah wilayah di kaki Gunung Welirang yang semula berupa hutan lebat menjadi pedukuhan kecil di pinggir hutan yang dipimpin oleh Mbah Kaliah.

Mbah Kaliah kemudian menikah dan mempunyai 3 orang keturunan, yakni Kaliah, Kalibah  dan Tariman Datuk Bendoro Inten. Dari Kalibah inilah kemudian yang menurunkan tetua-tetua/ lurah dukuh dan desa Tretes/ Prigen. Konon, di pedukuhan Tretes inilah Kaliah, Andan Bumi serta R .Adziman sering bertemu untuk bersilaturahmi sekaligus membahas perkembangan pedukuhan masing-masing




Selasa, 07 April 2015

MOJO Band Indonesia, Band Asli Kota Tretes



Diantara ribuan hamparan Villa yang tersebar di kota Tretes yang terkenal sebagai tempat beristirahat dari kepenatan kota besar, mungkin kita tidak pernah menyangka kalau di sana ada sekelompok anak muda yang sudah dikenal dimana-mana. Kepiawaiannya dalam bermusik telah banyak membuat harum nama Tretes. Ya..mereka adalah MOJO Band Indonesia. Sebuah grub band yang digawangi oleh empat anak muda berbakat, Edy pada guitar, Cak Chys pada bass, Lil pada drum dan Eka sang vokalis. 


Lewat talenta bermusiknya, grub ini sering di undang di berbagai acara musik off air maupun on air. Terakhir mereka diundang mengisi acara Rolling Rock di SBO TV  pada hari minggu tanggal 05 April 2015.







Blog Arsip

Jumlah Kunjungan