Tahun
1706 benteng terakhir Untung Suropati (Adipati Wiranegara) di Pasuruan jatuh.
Untung Suropati gugur. Pasukannya tercerai berai. Beberapa orang mengundurkan
diri ke Mojokerto dan Kediri dan meneruskan perlawana terhadap
Belanda bergabung dengan Kadipaten lain.
Beberapa
anggota laskar Untung Suropati lainnya menyingkir ke hutan-hutan di
wilayah Pasuruan dan Malang, tepatnya di Lereng Gunung Arjuno Welirang
untuk menghindari kejaran musuh. Harapannya suatu saat dapat menggalang kekuatan untuk
melawan kompeni Belanda. Diantara anggota laskar itu adalahKaliah, Andan Bumi,
R. Adziman dan beberapa teman lainnya.
Kaliah yang akhirnya dikenal
sebagai mbah Kaliah menetap di tempat paling terpencil. Tinggal di hutan perawan
yang lebat. Masih banyak binatang buas serta dikenal angker. Tempat baru ini
begitu subur karena banyak sumber airnya. Di sinilah mbah Kaliah memulai
kehidupan baru dengan membabat hutan dan mendirikan pondok sederhana.
Karena tempat ini merupakan daerah yang sangat aman maka di saat tertentu,
rekan-rekan seperjuang Kaliah berkumpul di tempat ini untuk membicarakan
tentang masa depan.
Lantaran tempat baru yang diidami
Kaliah banyak sumber air dan rembesan airnya ada yang selalu menetes melalui
celah-celah batu tebing, maka tempat ini kemudian dinaman TRETES, yang
artinya selalu menetes. Akhirnya dalam waktu yang panjang wilayah Tretes
makin ramai karena banyak pendatang yang datang dan menetap. Maka jadilah
wilayah di kaki Gunung Welirang yang semula berupa hutan lebat menjadi
pedukuhan kecil di pinggir hutan yang dipimpin oleh Mbah Kaliah.
Mbah Kaliah kemudian menikah dan mempunyai 3 orang
keturunan, yakni Kaliah, Kalibah dan Tariman Datuk Bendoro Inten. Dari
Kalibah inilah kemudian yang menurunkan tetua-tetua/ lurah dukuh dan desa
Tretes/ Prigen. Konon, di pedukuhan Tretes inilah Kaliah, Andan Bumi serta R
.Adziman sering bertemu untuk bersilaturahmi sekaligus membahas perkembangan
pedukuhan masing-masing